Berita Hawzah — Sayyidah Khadijah, istri mulia Rasulullah SAWW, lahir di kota Makkah. Ayahnya bernama Khuwaylid bin Asad dan ibunya Fatimah binti Zaidah bin Asham. Beliau menikah dengan Nabi Muhammad SAWW ketika usia mulia beliau 25 tahun. Menurut pendapat masyhur, hasil dari pernikahan beliau dan Rasulullah SAWW adalah memiliki enam orang anak, diantaranya bernama Qasim, Abdullah, Ruqayyah, Zainab, Ummu Kultsum, dan Fathimah Az-Zahra. Sebelum Islam, karena sifat-sifat terpuji, kemuliaan akhlak, dan kesuciannya, beliau dijuluki “Thahirah”. Harta Khadijah tak tertandingi di tengah penduduk Makkah, dan orang-orang Makkah berdagang dengan beliau melalui sistem mudharabah. Setelah menikah dengan Rasulullah SAWW, Khadijah menempatkan seluruh hartanya di bawah pengelolaan Rasul, sehingga memperkuat islam dari sisi ekonomi dan dengan segenap upayanya membantu penyebarannya.
Kedudukan beliau di sisi Nabi SAWW sangatlah istimewa sehingga selama 25 tahun hidup bersama dengan wanita agung ini, Rasulullah SAWW tidak menikahi wanita lain dan menghabiskan masa-masa terbaiknya bersamanya. Setelah wafatnya Sayyidah Khadijah, Rasulullah senantiasa mengenang cinta dan pengorbanannya. Menurut beberapa pendapat, sebelum menikah dengan Rasulullah SAWW, Sayyidah Khadijah pernah menikah dengan dua orang bernama “Abu Halah bin Zararah at-Tamimi” dan “Atiq bin ‘A’idh al-Makhzumi”. Pendamping setia risalah ini wafat pada tahun kesepuluh bi’tsah, di usia 65 tahun, pada tanggal 10 Ramadan, dan meninggalkan duka yang mendalam di hati Rasulullah SAWW, serta kaum Muslimin. Rasulullah SAWW menguburkan jasad sucinya dengan tangan beliau sendiri di Hajun. Karena duka yang mendalam dan wafat beliau yang berdekatan dengan wafatnya Abu Thalib 'alaihissalam, Rasulullah SAWW menamai tahun itu ‘Am al-Huzn (Tahun Duka). Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam, sebagai ungkapan penghormatan atas jasa dua insan agung itu bagi agama Islam, menuturkan syair-syair yang memilukan; pada sebagian bagiannya beliau melukiskan duka dan kepedihan hatinya:
اعینی جودا بارک الله فیکما علی هالکین لا تری لهما مثلا
علی سید البطحاء وابن رئیسها وسیدة النسوان اول من صلی
مهذبة قد طیب الله خیمها مبارکة والله ساق لها الفضلا
فبت اقاسی منهما الهم والثکلا مصابهما ادجی الی الجو والهواء
"Wahai kedua mataku, deraskanlah air mata. Semoga Allah memberkahi kalian berdua atas dua orang yang telah binasa, yang tak ada bandingannya."
"(Mereka adalah) Pemimpin mulia di Bathha (Mekkah) dan putra ketuanya, serta pemimpin para wanita, orang pertama yang melaksanakan shalat."
"Wanita yang suci, Allah telah membersihkan kemahnya dan diberkahi serta Allah telah menganugerahkan keutamaan kepadanya."
"Maka aku pun menanggung kesedihan dan kehilangan yang disebabkan oleh keduanya. Musibah (kematian) mereka telah menutupi langit dan udara dengan kegelapan."(1)
Dalam tulisan ini, kami bermaksud menyoroti peran wanita mulia ini dalam pengembangan ajaran-ajaran pendidikan Islam dan menyajikan sejumlah poin penting bagi para pembaca, dengan harapan kita dapat mengambil pelajaran dari sosok teladan ini, mengenal keutamaan dan kemuliaannya, serta meneladani beliau sebagai figur pendidik.
1- Keutamaan akhlak dan ilmu
Menelaah sejarah hidup Sayyidah Khadijah 'alaihassalam menunjukkan bahwa baik pada masa jahiliah maupun setelah bi’tsah Rasulullah SAWW, beliau memiliki keutamaan akhlak dan kesempurnaan spiritual. Di tengah masyarakat pada masa itu, beliau tampil sebagai teladan wanita utama yang sangat berpengaruh dalam penyebaran sifat-sifat luhur manusiawi. Wanita agung ini dikenal melalui sejarahnya karena keutamaan-keutamaan terpuji yang dimilikinya, antara lain kedermawanan, kemuliaan, pengorbanan, kesucian, pandangan jauh ke depan, perhatian kepada orang miskin, kelembutan, kasih sayang, kesabaran, dan ketabahan. Karena itulah, sebagai istri Rasulullah SAWW yang tiada duanya, Khadijah Al-Kubra memiliki kesetaraan (sekufu) dan keutamaan akhlak yang menjadikannya mitra sejati bagi Nabi Muhammad SAWW. Rasulullah SAWW tidak menikah lagi selama Khadijah hidup, yang menunjukkan betapa besar peran dan pengaruhnya dalam kehidupan beliau, sehingga Rasulullah SAWW menganggapnya sebagai wanita surga yang terbaik, seraya bersabda: “Wanita terbaik penghuni surga adalah Khadijah binti Khuwaylid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istri Firaun.” (2)
Kesetiaan wanita langit ini dalam meniti tujuan-tujuan luhur suaminya menjadi perhatian para penulis dan peneliti sejarah. Sejak pertama pengutusan Rasulullah SAWW, ia beriman kepada-Nya dan hingga akhir hayatnya, beliau tetap berpegang teguh pada imannya tanpa ada keraguan sedkitpun di hatinya. Selain memliki keutamaan akhlak, beliau juga memiliki keunggulan dalam ilmu. Sejarah mencatat bahwa Sayyidah Khadijah memiliki banyak pengetahuan ilmu pada zamannya, mengetahui kitab-kitab langit, dan dari sisi akal, kecerdasan, dan ketajaman, ia melampaui seluruh wanita bahkan banyak pria pada masanya. Dengan demikian, beliau memiliki segenap kesempurnaan dan keistimewaan yang dapat dimiliki seorang wanita.
Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, sebagai wanita Muslim pertama, Khadijah memainkan peran agung dan penting dalam penyebaran agama islam dan teladan seorang wanita Muslim yang paripurna; banyak wanita belajar dari pendidikan praktis beliau. Pentingnya keutamaan akhlak dan kesempurnaan kemanusiaan pada diri wanita berkeutamaan ini kian tampak jika kita menengok kondisi perempuan pada masa jahiliah sebelum bi’tsah Nabi SAWW.
Kala itu, wanita bukan hanya terampas hak-haknya dan hidup dalam kondisi paling memilukan, bahkan dianggap aib dan pembawa sial hingga dikubur hidup-hidup. Dalam zaman seperti itu, Khadijah membuktikan bahwa seorang wanita bukan hanya berhak hidup dan menuntut hak-haknya, namun dengan amal saleh, usaha, dan kerja keras, ia dapat mencapai derajat di mana Allah Azza wa Jalla menyampaikan salam kepadanya; sebagaimana Imam Muhammad Al-baqir 'alaihissalam meriwayatkan dari Rasulullah SAWW: Pada malam Isra, saat kembali dari perjalanan itu, aku berkata kepada Jibril, “Wahai Jibril! Adakah permintaan dariku?” Ia berkata, “Permintaanku adalah engkau sampaikan salam Allah dan salamku kepada Khadijah.” (3)
2- Membesarkan anak-anak yang saleh
Tanpa ragu, ibu, sebagai faktor lingkungan dan herediter paling berpengaruh, dan berperan besar dalam pertumbuhan serta pembentukan kepribadian anak. Selain sebagai ibu rohani seluruh mukmin menurut nash Al-Qur’an, Sayyidah Khadijah, sebagai ibu yang saleh dan beriman, membesarkan anak-anak yang baik dan saleh bagi Rasulullah SAWW. Ia melahirkan enam anak untuk Nabi dan mengasuh mereka dengan penuh kasih sayang; di antara mereka, Sayyidah Fatimah as memiliki kedudukan istimewa: dari keturunannya, setelah Nabi SAWW dan Ali as, kepemimpinan Islam muncul dan berlanjut.
Kedekatan putri ini dengan ibunya sangatlah erat, sehingga ketika Sayyidah Khadijah wafat dan Fatimah as berusia sekitar lima tahun, ia sangat gelisah, mengitari ayahandanya sambil berkata, “Wahai Ayah! Di manakah ibuku?” Jibril turun dan berkata, “Wahai Rasulullah! Allah berfirman: Sampaikan salam Kami kepada Fatimah dan beritahukan kepadanya bahwa ibunya, Khadijah, tinggal di rumah-rumah surga bersama Asiyah dan Maryam.” (4)
Putri suci ini, saat merasakan bahwa ibunya sangat sedih berpisah dengannya dan ayahandanya, serta khawatir akan kesendirian dan tidak adanya penolong bagi Nabi SAWW, menenangkan ibunya dengan berkata, “Wahai Ibu! Jangan bersedih dan jangan cemas, karena Allah bersama ayahku.” (5)
Para imam maksum as juga senantiasa berbangga memiliki ibu seperti itu; sebagaimana Imam Hasan as, saat berdebat dengan Muawiyah, menyebut salah satu sebab penyimpangan Muawiyah dari kebenaran dan dekadensi moralnya, serta kebahagiaan dirinya, adalah peran ibu dalam pendidikan. Beliau bersabda: “Wahai Muawiyah! Karena ibumu adalah Hindun dan nenekmu Natsilah [dan engkau dibesarkan di pangkuan wanita rendah dan hina seperti itu], maka perbuatan keji seperti ini muncul darimu. Sedangkan kebahagiaan keluarga kami adalah berkat didikan di pangkuan ibu-ibu suci dan bertakwa seperti Khadijah as dan Fatimah as.” (6)
Imam Husain as pada hari ‘Asyura, untuk memperkenalkan dirinya dan menggugah hati-hati yang sadar, menyinggung ibunya Fatimah as dan neneknya yang saleh dan pengorban, Sayyidah Khadijah, seraya bersabda: “Aku bersumpah atas nama Allah! bukankah kalian mengetahui bahwa ibuku adalah Fatimah az-Zahra putri Muhammad? Mereka menjawab, ‘Benar, demi Allah.’ … ‘Aku bersumpah atas nama Allah! bukankah kalian mengetahui bahwa nenekku Khadijah binti Khuwaylid adalah wanita pertama dari umat ini yang masuk Islam?’ Mereka menjawab, ‘Benar, demi Allah.’” (7)
Selain membesarkan anak-anak Nabi dalam pelukan kasih sayangnya, Sayyidah Khadijah juga telah mendidik anak-anak yang baik sebelum menikah dengan Nabi, di antaranya adalah Hindun bin Abi Halah. Selama tiga hari tiga malam ketika Rasulullah SAWW bersembunyi di Gua Tsur saat hijrah, ia bersama Ali as secara diam-diam mengantarkan bekal makanan kepada Nabi SAWW tanpa diketahui kaum musyrik Makkah. Ia adalah lelaki mulia, terpandang, fasih, dan ahli hadis, putra dari suami Khadijah yang lain bernama Abi Halah bin Zararah at-Tamimi. (8)
Hind putra Khadijah inilah yang disebut Imam Hasan as sebagai pamannya dari pihak ibu. Ia menggambarkan sifat-sifat dan paras Rasulullah SAWW kepada Imam Mujtaba as, dan sangat dicintai Rasulullah SAWW. Ia memecahkan berhala-berhala kaum musyrik (9) dan gugur syahid di pihak Imam Ali as dalam Perang Jamal. (10) dan (11)
3- Memperhatikan kebutuhan emosional dan keinginan anak
Kasih sayang kepada anak dan pemenuhan kebutuhan spiritual serta emosional mereka merupakan salah satu prinsip pendidikan Islam. Sebagai ibu penyayang dan pendidik yang sadar, Sayyidah Khadijah memiliki perhatian khusus pada hal ini. Kisah berikut menggambarkan karakteristik tersebut.
Pada masa sakit Khadijah yang berujung pada wafatnya, Asma’ binti ‘Umais datang menjenguk dan mendapati Khadijah menangis dan sedih. Ia menenangkan: “Engkau termasuk wanita terbaik di alam; engkau telah menginfakkan seluruh hartamu di jalan Allah; engkau istri Rasulullah, dan beliau berulang kali memberi kabar gembira tentang surga bagimu. Dengan semua itu, mengapa engkau menangis dan cemas?”
Khadijah as menjawab: “Wahai Asma’! Aku memikirkan ini: seorang putri saat hari pernikahannya membutuhkan seorang ibu untuk menumpahkan kecemasan dan rahasianya, dan menyampaikan keinginannya kepada seorang yang menjadi tempat percaya; Fatimah as masih kecil; aku takut tidak ada yang menanggung urusan-urusannya pada malam pernikahannya dan berperan sebagai ibunya.”
Asma’ binti ‘Umais berkata: “Wahai junjunganku! Jangan khawatir. Aku berjanji, jika aku masih hidup hingga saat itu, aku akan menjadi ibu bagi Fatimah menggantikanmu dan memenuhi kebutuhan jiwa dan emosinya.”
Setelah wafat Khadijah as dan tibalah malam pernikahan Sayyidah Fatimah as, Rasulullah SAWW bersabda agar semua wanita keluar dari kamar pengantin, jangan ada yang tersisa. Semua keluar, namun Nabi SAWW mendapati Asma’ binti ‘Umais masih di dalam. Beliau bersabda, “Bukankah telah kukatakan semua wanita keluar?” Asma’ berkata, “Benar, wahai Rasulullah, aku mendengar dan tak bermaksud menentang sabda Anda. Namun janjiku kepada Khadijah membuatku tetap di sini; aku telah berikrar kepadanya untuk menjadi ibu bagi Fatimah pada malam seperti ini.” (12)
Mendengar itu, Rasulullah SAWW menangis dan bersabda, “Demi Allah, engkaukah yang berdiri melakukan ini?” Asma’ menjawab, “Ya.” Rasulullah SAWW menengadahkan tangan berdoa dan mendoakan Asma’ binti ‘Umais. (13)
Demikian pula, terkait masa depan putri kecilnya, Khadijah menyampaikan kegundahan kepada Rasulullah SAWW: “Wahai Rasulullah! Putriku ini—seraya menunjuk Fatimah as—setelah aku akan menjadi asing dan sendiri. Jangan sampai ada wanita Quraisy yang menyakitinya; jangan sampai ada yang menampar pipinya; jangan sampai ada yang membentaknya; jangan sampai ada yang bersikap kasar dan keras kepadanya.” (14)
4- Menjaga adab berumah tangga
Salah satu program pendidikan Islam adalah mengajarkan adab bersuami-istri kepada para wanita. Jika kita cermati statistik perselisihan keluarga, perceraian, dan berbagai disharmoni, sebagian besar masalah itu kembali pada perilaku suami-istri—terutama akibat ketidaktahuan sebagian istri dan remaja putri terhadap hak-hak suami, adab pergaulan, dan prinsip-prinsip berumah tangga dalam Islam. Sayyidah Khadijah 'alaihissalam berupaya sungguh-sungguh menebarkan adab rumah tangga Islami dan menjaga hak-hak suami. Dengan berbagai cara, Khadijah 'alaihassalam menjaga ketenangan rumah tangga, menghadirkan kenyaman jiwa dan psikologis suami dan anak-anak, dan menyiapkan ruang tumbuhnya keutamaan akhlak. Berikut beberapa metode memuliakan suami dan berumah tangga ala Khadijah:
a) Mengungkapkan cinta
Pada saat yang tepat, Khadijah mengungkapkan ketertarikan dan cintanya kepada suami mulianya. Dalam bait-bait indah, ia mengekspresikan isi hatinya kepada Rasulullah SAWW:
فلو اننی امشیت فی کل نعمة ودامت لی الدنیا وملک الاکاسرة
فما سویت عندی جناح بعوضة اذا لم یکن عینی لعینک ناظرة
“Andai, aku memiliki seluruh nikmat dunia dan kerajaan para raja serta kepemilikan semua itu kekal bagiku, maka semuanya itu tak sebanding dengan sayap seekor nyamuk di mataku, jika mataku tak dapat memandang matamu.” (15)
b) Menyampaikan keinginan secara tidak langsung
Setiap istri wajar memiliki keinginan dari suaminya. Permintaan yang wajar bila disampaikan dalam suasana penuh kasih dengan menjaga adab, akan lebih indah dan menyentuh. Disampaikan secara tidak langsung pun amat efektif mempererat hubungan. Khadijah 'alaihassalam telah mengabdikan dirinya di rumah suci Nabi SAWW dan menanggung banyak kesulitan; secara manusiawi ia bisa saja menyampaikan keinginannnya, namun ia tidak pernah menyatakannya secara langsung, melainkan sebagai usulan atau permohonan kecil dengan penuh adab.
Ketika beliau berwasiat kepada Rasulullah SAWW menjelang wafatnya. Ia menyampaikannya dalam dialog akrab dan penuh kasih. Ia berkata kepada Nabi SAWW: “Wahai Rasulullah! Aku memiliki beberapa wasiat, sungguh aku telah lalai terhadapmu—maafkan aku.” Nabi SAWW bersabda: “Aku tak pernah melihat kekurangan darimu. Engkau telah berusaha sekuat tenaga, menanggung banyak kesulitan di rumahku, dan menginfakkan seluruh hartamu di jalan Allah.” Khadijah 'alaihassalam berkata: “Wahai Rasulullah! Aku ingin menyampaikan sebuah permintaan melalui putriku, Fathimah, dan aku malu untuk mengatakannya langsung.” Lalu Nabi keluar dari rumah Khadijah. Khadijah memanggil putrinya dan berkata, “Anakku, sampaikan kepada ayahmu: ibuku berkata, ‘Aku takut pada alam kubur; aku ingin engkau mengkafaniku dengan baju yang engkau pakai saat turunnya wahyu dan meletakkanku dengan itu di liang lahat.’” Fathimah menyampaikan pesan ibunya. Nabi SAWW mengirimkan baju itu untuk Khadijah. Ketika Fathimah membawanya, kegembiraan tak terlukiskan menyelimuti Khadijah. Lalu, dengan hati tenang, Khadijah menutup usia. Rasulullah SAWW memandikan dan mengkafaninya; saat hendak mengkafaninya, Jibril turun dan berkata, “Wahai Rasulullah! Allah menyampaikan salam-Nya dan berfirman: Kafan Khadijah menjadi tanggungan Kami, yakni kafan dari surga.” Kemudian, Nabi SAWW mengkafaninya dengan baju beliau dan di luarnya dengan kafan surga.
c) Menenangkan dan menguatkan suami
Keluarga adalah pusat ketenteraman. Seorang lelaki yang di luar rumah menghadapi beragam kesulitan, kadang mendengar cemoohan, dan menanggung luka jiwa serta raga, berharap ada yang menghibur, mendengarkan keluh kesahnya, dan dengan kata-kata penyejuk serta sikap menenteramkan mengobati luka hatinya.
Khadijah adalah istri seperti itu bagi Rasulullah SAWW. Kaum musyrik menyakiti Nabi dengan ucapan yang menghinanya dan perilaku buruk; banyak kesulitan menghadang beliau, namun semua itu diimbangi oleh Khadijah 'alaihassalam. Ia memahami pribadi Rasulullah SAWW dengan tantangan yang sedang dihadapinya, maka dari itu ia berusaha mendukung tujuan-tujuan Rasulullah SAWW, membenarkan ucapan beliau, dan melepaskan beliau dari segala duka.
Allamah Sayyid Syarafuddin menulis: “Selama 25 tahun ia hidup bersama Nabi SAWW tanpa ada wanita lain yang berbagi dalam kehidupan itu; seandainya ia tetap hidup, Nabi pun takkan memilih wanita lain untuk menjadi pasangan-Nya. Sepanjang pernikahan, ia berbagi duka derita Nabi, menguatkannya dengan harta, membelanya dengan lisan dan perbuatan, dan menghiburnya dari siksaan kaum kafir yang diterima di jalan risalah. Ia bersama Ali binAbi Thalib 'alaihissalam hadir saat turunnya wahyu pertama di Gua Hira.” (16)
Rasulullah SAWW bersabda tentang istrinya yang mulia: “Khadijah adalah wanita yang ketika semua orang berpaling dariku, ia menghadap kepadaku; ketika semua orang menjauh dariku, ia mencintaiku; ketika semua orang mendustakan dakwahku, ia beriman kepadaku dan membenarkanku. Dalam kesulitan hidup ia menolongku, membantu dengan hartanya, dan menghapus dukaku.” (17)
Pengaruh Khadijah pada jiwa Rasulullah SAWWsangat dalam sehingga sekian lama setelah wafat beliau, setiap kali Rasulullah menyembelih kambing, beliau bersabda, “Berikan sebagiannya untuk sahabat-sahabat Khadijah, karena aku mencintai Khadijah.”
5- Kriteria terbaik dalam memilih pasangan
Setiap pemuda memerlukan pernikahan. Dalam Islam, pernikahan adalah ritual sakral dan terhitung ibadah. Ketika seorang pemuda dan pemudi melangkah ke jenjang pernikahan, mereka melangkah dari cinta diri menuju cinta selain diri; dengan akad sakral, mereka keluar dari lingkar ego dan memasuki fase baru yang menutupi sebagian kekurangan diri: melanjutkan keturunan, ketenangan, penyempurnaan, pemenuhan kebutuhan seksual, kesehatan dan keamanan sosial, serta kebutuhan jiwa dan psikologis. Di antara kegundahan utama calon pengantin adalah kriteria terbaik dalam memilih pasangan masa depannya.
Sebagai teladan bagi para wanita Muslim, Khadijah as mengemukakan kriteria dan prinsip ketika memilih Nabi Muhammad SAWW sebagai suaminya, sebagaimana tampak dalam dialog beliau dengan Nabi SAWW. Khadijah, saat mengajukan lamaran kepada Rasulullah SAWW, berkata: “Karena kekerabatanmu denganku, kemuliaanmu, amanahmu di tengah masyarakat, akhlak muliamu, dan kejujuranmu, aku ingin menikah denganmu.” (18)
Nilai pilihan Khadijah kian nyata bila kita ketahui bahwa saat itu beliau memiliki posisi sangat tinggi dan terhormat di masyarakatnya, dan seluruh fasilitas serta peluang tersedia baginya untuk menikah dengan pemuda-pemuda ternama dan kaya dari Quraisy.
Catatan kaki:
1) Bihār al-Anwār, jil. 35, hlm. 143; Dīwān Imām ‘Alī as, hlm. 359; Mustadrak Safīnat al-Bihār, jil. 4, hlm. 73.
2) Manāqib Amīr al-Mu’minīn as, jil. 2, hlm. 186.
3) Bihār al-Anwār, jil. 18, hlm. 385.
4) Amālī Syaikh Thūsī, hlm. 175.
5) Farhang Sukhanān Hazrat Fāṭimah as, hlm. 164.
6) Al-Iḥtijāj, Ṭabarsī, jil. 1, hlm. 282.
7) Al-Amālī Syaikh Thūsī, hlm. 463.
8) Ibid.
9) Akmāl al-Kamāl, jil. 1, hlm. 119.
10) Makārim al-Akhlāq, hlm. 11.
11) Sebagian pemikir Muslim berpendapat bahwa Sayyidah Khadijah tidak menikah sebelum Rasulullah SAWW, dan anak-anak seperti Hind adalah keponakan-keponakan yang beliau besarkan dalam asuhannya.
12) A‘yān al-Syi‘ah, jil. 1, hlm. 380.
13) Syajarah Ṭūbā, jil. 2, hlm. 334.
14) Ibid.
15) Mustadrak Safīnat al-Bihār, jil. 5, hlm. 44.
16) Khadījah, Ali Muhammad ‘Ali Dakhīl, hlm. 31.
17) Bihār al-Anwār, jil. 43, hlm. 131.
18) Kashf al-Ghummah, jil. 2, hlm. 132.
Komentar Anda